Hello, udah berapa lama saya gak update blog ini ya?
Post terakhir di 2013. Dua tahun yang lalu. WOW!
Trust me, a lot of things happened in two years!
Mungkin saya gak pantes nulis post yang satu ini, atau mungkin banyak orang gak setuju sama apa yang mau saya tulis.
Tapi intinya disini, saya mau sharing apa yang selama ini saya rasain dan selalu jadi ganjelan di hati setiap kali issue ini muncul di hidup saya.
Saya gak ada maksud untuk menyinggung kalangan manapun atau menunjuk siapapun yang mungkin merasa "Kok ini orang kayak ngomongin saya?"
Point saya tulis apa yang nanti saya tulis bukan menunjuk pada masalah general yang jadi momok di lingkungan kita hidup, tapi yang jadi inti permasalahan adalah kenapa issue general itu selalu dihubung-hubungkan sama issue utama dari cerita saya.
Koin aja punya dua sisi, setiap cerita pasti ada dua sisi berbeda, dan ini sisi dari saya...
I am getting married.
Yes. Very soon.
And by very soon, it means I have to take care of all files in order for me to get legally married.
Karena berhubung agama saya Katolik, jadi ada serangkaian berkas yang harus saya urus, baik itu ke gereja atau juga ke ketua lingkungan dimana saya tinggal.
Dalam Katolik, dimanapun kita berdomisili, disitu pasti ada perkumpulan atau grup umat gereja di Paroki tersebut (baca: di lingkungan dimana kita tinggal pasti ada gereja terdekat, dan itu adalah pusatnya) yang tugasnya membantu umat sekitar untuk urusan berkas gereja, koordinasi acara, dan lain-lain.
Mungkin udah keliatan kemana arah cerita saya menuju ya?
Waktu saya urus berkas-berkas, muncul sebuah wacana yang gak pernah ada habisnya muncul terus dalam hidup saya.
Sebenarnya saya gak pernah take it seriously, atau ngerasa offended by it, atau juga tersinggung karena orang bring up issue ini.
Tapi selalu bikin saya mikir, kenapa beberapa kalangan orang selalu bikin hal ini jadi major issue dalam hidup mereka (setidaknya dari cara mereka bicara terkesan benar-benar against sama hal ini).
Nah dari major issue ini terus bercabang deh jadi beberapa issue yang menurut saya selalu dikait-kaitkan satu sama lain.
Saya gak pernah bilang salah atau benar, karena buat saya, saya gak pusingin hidup orang lain. Tapi karena kebetulan di dalam lingkup keluarga saya banyak yang kasusnya sama, issue ini nyentil saya banget.
Major issue disini adalah agama.
Sub-majornya yang pertama adalah perbedaan agama.
Saya pernah di posisi dimana saya punya hubungan sama orang yang beda agama dari saya.
Orang bilang kalau orang beda agama biasanya gak bertahan lama, atau kedepannya gak akan mulus/berakhir dengan baik, kalaupun ada, pasti rare case sekali dan bisa dihitung jari.
Terus orang bilang kalau beda agama urusnya sulit di Indonesia (ini bener).
Terus orang juga bilang kalau maksa nikah beda agama, nantinya bisa ribut gara-gara urusan agama itu.
Bla bla bla.
Kalau mau dikasih contoh bisa sampai besok gak habis saya tulis.
Kalau menurut saya, beda agama terus so what?
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah.
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah karena pengurusannya yang sulit dan dipersulit.
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah karena berpikir ke depannya bakal jadi problem dalam kehidupan mereka berdua.
Agama dijadiin issue buat gak jadi sama orang yang bener-bener kita sayang, itu masalah.
Saya gak bilang orang yang pindah agama demi pasangannya itu bukan orang yang benar, saya gak ada hak buat bilang seseorang itu benar atau tidak cuma karena dia pindah agama.
Saya percaya Tuhan itu satu.
Semua agama gak ada yang ajarin hal-hal buruk.
Kalau ada orang bilang agama A itu jelek atau agama B itu gak bener umatnya, buat saya orang itu gak ngerti bahwa itu dasarnya orang-orangnya saja yang jelek tabiatnya dan hidupnya gak bener tapi kebetulan orang yang dimaksud itu memeluk agama yang disangkut-sangkutkan.
Apa ada agama yang ajarin orang yang sudah menikah untuk bercerai dalam kondisi apapun?
Sejelek-jeleknya sebuah pernikahan, buat saya kalau sudah komitmen dari awal memilih pasangan itu sendiri tanpa ada paksaan dan sudah memutuskan buat menikah, tolong diingat lagi janji nikahnya seperti apa. Buat saya gak ada alasan cerai kecuali memang dipisahkan oleh maut.
Ada agama yang ajarin mencuri atau merampok?
Ada agama yang ajarin berdusta? Membunuh? Menyakiti orang lain?
Semua agama mengajarkan kasih.
Kasih sama Tuhannya, sama sesamanya, sama makhluk hidup lainnya, sama diri sendiri.
Terus balik lagi ke inti masalahnya, dimana agama jadi momok dalam soal pernikahan.
Kalau sudah sama agamanya, masalahnya ada lain lagi.
Sering ibadah bareng gak?
Suka berdoa bareng gak?
Terus kalau imannya gak kuat, nanti pernikahannya bisa hancur kalau ada cobaan berat yang menghadang.
Saya setuju kalau orang bilang sebuah pernikahan dasarnya/pusatnya/corenya itu Tuhan, karena menurut saya, dengan percaya sama Tuhan, orang punya rasa takut.
Takut bikin dosa, takut nyakitin orang lain, takut buat melakukan yang jahat atau negatif intinya kalau menurut saya sih.
Dan dengan semua rasa takut itu, otomatis seseorang jadi orang yg gak akan sia-siain pasangannya dalam cara apapun.
Tapi kalau orang bilang cuma karena gak pernah beribadah terus pernikahannya bisa goyah sih saya gak percaya dan gak akan pernah bisa terima pernyataan itu.
Kembali lagi bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, kalau ada orang yang memeluk agama apapun tapi tetap berbuat jahat sama orang, itu orangnya aja yang emang jahat, gak ada hubungan sama agamanya atau seberapa sering dia berdoa atau beribadah.
Manusia tidak ada yang sempurna dan manusia punya pilihan buat melakukan yang baik-baik atau yang jahat-jahat.
Saya cuma lihat masih banyak orang yang saya kenal atau lihat pakai mata kepala sendiri, rajin sih ibadahnya, cuma kehidupan sehari-hari sama orang lain gak mencerminkan ibadahnya.
Sekarang kalau ke tempat ibadah, di sana kita dengar pemimpin ibadahnya bicara mengenai hal-hal yang baik yang kita harusnya lakuin di dunia kan?
Kalau baru selesai ibadah, baru saja sampai di parkiran, terus ribut sama orang lain cuma gara-gara diserobot jalan keluarnya, apa itu sudah benar atau cukup ibadahnya?
Familiar sama hal-hal seperti itu?
Makanya saya gak pernah setuju orang mengukur iman orang lain (soal ukur-mengukur ini saja saya gak pernah setuju) cuma dari seberapa sering orang itu beribadah dan berdoa.
Tanpa tahu hidupnya sehari-hari orang tersebut seperti apa dan bagaimana.
Ada lagi kasus orang yang sepertinya (kelihatannya) sempurna; rajin beribadah, rajin nolongin orang lain, tapi di rumah atau di dalam lingkup keluarganya saja dia gamau turun tangan untuk bantu.
Kalau begitu apa dia orang benar? Cukup benar? Setengah benar?
Saya gak pernah mau pusingin hidup orang seperti apa, atau ibadahnya seperti apa, baik apa enggak orang itu sama keluarganya atau tetangganya, atau apapun soal agama orang lain.
Cukup dia sama Tuhannya saja yang tau, maka itu saya selalu ngerasa kadang orang terlalu "intim" mendadak kalau ngomongin soal agama, apalagi kalau tahu saya gak melakukan hal-hal pada umumnya yang seharusnya dilakukan oleh seorang Katolik. :p
Kembali ke kasus dimana rajin beribadah dan berdoa mendukung suksesnya sebuah pernikahan karena kalau ada benturan, doa akan menyelamatkan. Tuhan akan menyelamatkan.
Saya sudah pernah dengar banyak kasus kesaksian orang hampir bercerai, lantas karena berubah jadi rajin beribadah dan berdoa, serta rajin mendoakan istri/suaminya, tidak jadi bercerai. Atau suami/istrinya berubah jadi baik lagi. Ya semacam-macam begitu.
Sebuah hubungan (saya gausah jauh-jauh ngomongin pasangan suami istri), mau itu hubungan teman, pacaran, tetanggaan, apapun itu, selalu butuh dua orang untuk bisa jalan.
It takes two to tango. ALWAYS.
Itu yang saya yakinin.
Sebuah hubungan pasti ada ups and downs-nya, pasti ada cobaannya, mungkin hubungan pasangan itu lebih complex karena dua orang yang berkomitmen untuk menjalankan sebuah hubungan kan sifatnya intimate; ada sebuah janji, ada sebuah harapan sama mimpi. Jadi kalau ada masalah, biasanya lebih ruwet dan kalau berantem lebih heboh.
Tapi coba dipikir, namanya pasangan, kalau ada masalah, apa masalah itu timbul dari salah satu pihak saja?
Kembali lagi it takes two to tango.
Ada sebab ada akibat.
Dan setiap koin ada dua sisi.
Dan hal paling penting yang harus dijunjung tinggi dalam sebuah hubungan itu adalah komunikasi.
Mau berhubungan baik sama orang lain ya harus komunikasi yang baik.
Percuma punya rasa sayang kalau gak bisa berkomunikasi satu sama lain.
Suatu saat timbul masalah, apa rasa sayang saja cukup?
Kalau dua orang dalam satu hubungan sudah gak bisa komunikasi lagi, buat saya itu disaster.
Dengan komunikasi itu, nanti hal-hal baik pasti ikut muncul dengan sendirinya.
Faith.
Loyalty.
Honesty.
Trust.
Even love needs to be communicated, not only verbally but also with actions.
Saya gak perlu panjang-panjang jelasin kriteria cowok seperti apa yang saya mau, saya cukup bilang saya mau seseorang yang bisa saya ajak bicara dalam bentuk apapun dan nyambung sama saya. Itu sudah lebih dari cukup.
Dengan komunikasi yang baik, gak akan ada yang namanya misunderstanding.
Gak akan ada berantem berkepanjangan.
Dan yang saya maksud komunikasi disini bukan cuma ngomong ya, tapi juga dengerin. Give and take. Kalau cuma mau ngomong aja tanpa dengerin pasangan kita juga kan egois. Balik lagi setiap koin ada dua sisi.
Kalau ada misunderstanding ya dibicarakan.
Kalau ada sebuah issue, small or big, ya dibicarakan.
Terus apa hubungannya daritadi saya bicara tentang komunikasi sama inti masalahnya?
Simple-nya saya bisa bilang, Tuhan bantu kita kasih jalan kalau kita minta dalam doa, di waktu kita ngerasa buntu sama sebuah masalah. Tapi kalau kita nya juga gak usaha, apa semua bisa magically happens?
Saya percaya mukjijat dan berkat Tuhan, tapi saya gak percaya orang yang cuma diam saja gak mau melakukan apa-apa itu hidupnya lancar-lancar saja.
Berserah sama menyerah itu beda.
Yang satu itu tetap berusaha tapi menjalani apa adanya, yang satu lagi gak mau berusaha sama sekali.
Saya rasa Tuhan juga bisa lihat mana yang berserah mana yang menyerah.
Kalau ada orang yang menyerah, yang dikasih kemudahan dalam hidupnya sama Tuhannya, coba kenalan/kenalin sama saya.
Di balik orang ngomong "I give up" itu masih ada hope, ada pengharapan.
Kasarnya saya bilang, masih ngarep.
Tapi kalau ngarepnya mukjijat terjadi begitu aja kayak sulap terus semuanya tiba-tiba bim salabim baik-baik saja, sampai langit tukeran posisi sama air laut juga gak akan pernah dapet mukjijatnya.
Balik lagi ke cerita yang saya mau sharing.
Sorry kalau ada yang offended sama cerita saya, tapi saya gak ada maksud apa-apa cerita ini semua.
Papa saya lahir di keluarga yang Kristennya cukup kental, mama saya dari keluarga Katolik.
Waktu nikah, papa kayaknya pindah agama karena sekarang saya tahunya di KTP tulisannya ya Katolik dan juga terdaftar sebagai kepala keluarga yang sah di kartu keluarga paroki gereja dimana saya berdomisili (kalau di Katolik, kalau kepala keluarga (papa) bukan beragama Katolik, maka istrinya yang punya titel kepala keluarga di kartu keluarga tersebut, saya juga baru tahu soal ini).
Saya gak begitu tahu alasannya kenapa, tapi saya tahu, nenek dari papa saya selalu pesan begini: "Kalau seorang laki-laki benar-benar mencintai perempuannya, maka dia harus ikut agama pasangannya kalau ingin menikah."
Mungkin itu alasan kenapa papa saya pindah, atau mungkin plain love with my mom back then.
Who knows, and I don't bother to ask why, all I know I am loved by them and they are perfectly in good relationship until this very second.
Itu kan dari keluarga inti saya.
Kakak dari papa saya menikah dengan seorang muslim. Dan sekarang mereka berdua sudah resmi menjadi Bapak Haji dan Ibu Hajjah.
Dan sampai detik ini pernikahan mereka baik-baik saja, dan kita sekeluarga besar juga baik-baik saja.
Dan itu masih dalam lingkup keluarga saya juga.
Calon suami saya punya orang tua yang juga beda agama.
Dan mereka perfectly fine sampai detik ini juga.
Jadi, apa agama itu jadi masalah buat sebuah pernikahan?
Apa kalau beda agama itu jadi masalah?
Itu kan cuma paradigma orang dan society yang selalu memicingkan mata kalau ada dua pasang laki-laki dan perempuan dengan agama yang berbeda ingin menjalin hubungan.
Gausah jauh-jauh ngomongin pernikahan, pacaran aja belum tentu disetujuin.
Papa saya selalu bilang, cari orang yang benar.
Tapi sebelum cari orang benar itu, kamu harus jadi orang yang benar dulu.
Jadi kamu tahu mana yang benar mana yang salah.
Dan itu yang saya pegang sampai detik ini.
Saya gak pernah ada maksud bilang orang gausah beribadah lagi, gausah berdoa lagi, atau gapapa kalau cari pasangan yang gak ngelakuin itu semua. Enggak.
Setiap orang punya prinsip sendiri-sendiri.
Prinsip saya ya seperti yang papa saya pesankan, cari orang yang benar.
Karena buat saya lebih baik saya sama orang yang tahu bagaimana harus menjalani hidup, daripada orang yang fanatik sama agamanya tapi gatau bagaimana menghargai orang lain dan makhluk hidup lainnya.
Kalau bisa dapat yang ibadahnya kuat PLUS orang benar, itu kan kayak dapat harta karun, dan kalau ada yang dapat itu, bersyukurlah, karena Tuhan itu baik sekali.
Lakukan yang menurut kamu benar, selama itu gak menyakiti orang lain dalam bentuk apapun. (:
Dan sebelum kamu judge kehidupan orang lain, coba diinget dulu seberapa sempurna hidup kamu?
mel
Thursday, April 16, 2015
Tuesday, May 21, 2013
Saleshitty.
Baru aja selesai booking tiket kereta api, sengaja pakai telepon rumah biar gak ribet in case ada kepentingan KAI via telepon, langsung ditelepon sama sales asuransi di TELEPON rumah.
I mean, seriously, one time.
And so I cut her out: "Please tell me what you want? I am driving, cut the nonsense."
I don't really understand where is the existence of privacy in this current world?
How can a form asks you to fill in the telephone or mobile phone number, and then it will MAGICALLY distributed to banks and insurance companies that I don't even have an account there.
It's really, mutilating the privacy of every single person exists on earth.
I think every sales in this country, should come with ID caller, I mean, each time they call, the owner of the phone has the right to reject if they don't need every credit card or insurance on this earth.
Like me.
Yes, consider me a caveman who doesn't need any of those material things.
So next year if there is another BLACK innovation award thingy happening again, I would create a thing called SALESMAN alarm alert device. To be attached to each single phone out there, for people who have precious time than to listen to their useless rubbish babbling about useless products.
I mean, seriously, one time.
This one time, I was driving rushingly to go to a meeting, I put on a handsfree just in case my colleague wanted to contact me to ask where I am. And because of this handsfree, I automatically accepted every phone call, because driving in highway means too busy focusing on the road instead of my phone screen just to check who is calling.
So this one really PAIN-IN-MY-EFFING-AS*-SALESWOMAN (PIMEAS) called.
As usual every sales comes with bullshit intro
"Hello I am PIMEAS from xxxx bank I would like to offer you a thankful gratitude promotion of blablablablablablablablablablablalballbalablalablblabla" (please, go to hellest hell)
And so I cut her out: "Please tell me what you want? I am driving, cut the nonsense."
And yet, I am sure because of her MUST-GIVE-BULLSHIT-NONSENSE-INTRO-AND-SWEET-TALK-NASTY-RUBBISH-TALK in the first place, she kept talking like a robot.
Creepy salesrobot.
She kept speaking her DIE-DIE-MUST-DO speech: "yes please allow me to give you a little bit info--"
and I snapped her off (because I was rushing for my meeting and I must bear in mind what I would like to present later on, I really don't have time for this stupid ignorant sales who has no idea about DO NOT PHONING WHILE DRIVING) "mbak! saya udah bilang saya lagi nyetir, bagian mana yang ga dimengerti kalau saya bilang to the point aja maunya apa, kalau cuma mau nawarin kartu kredit, saya ga butuh, makasih!"
and before i rampagely hung up the phone, she continued her babbling: "I just want to offer you blablabla"
and i threw my phone to the passenger seat.
I really wanted to tell her how stupid she is, but I really had no time.
I might sound harsh, but really, sometimes they're so stupid and don't the hell care about people's time and business.
And if they don't, so why should I?
There's another one when I was luckily sitting down watching tv, a salesman called. As usual he talked all the nonsense and got to the point 10 minutes after (because I put him on loudspeaker, so I could see the clock),
he wanted to offer me insurance policy, in which, I am a caveman, I don't need one.
So he insisted to ask me questions like which insurance do I use, and why, and he kept talking about his products.
So because I don't use any, I told him I have no insurance, yet he kept asking "what do you think about your current insurance policy, what do they cover?"
and I patiently told him, "mas, saya bilang saya gak pakai asuransi apa-apa."
and he miraculously asked again, "jadi asuransi ibu biasa menawarkan kelebihan apa?"
so I began very impatient, not because of the call, but because of his stupidity.
I said: "mas, saya udah bilang 3x kalau saya gak pakai asuransi apa-apa, klo mas mau tanya sampe bego kelebihan asuransi saya apa, yang budek itu mas, apa saya? saya ga pakai asuransi dan ga berniat pakai asuransi apapun."
and he said "tapi asuransi xxx punya kelebihan dibanding asuransi lain loh bu, di kami menyediakan blablablablablabla"
and so I felt like I wanted to poo listening to this stupid guy, I said: "mas, gausa cape-cape ngomong lagi, saya ga butuh asuransi. terima kasih."
So I hung up.
I might be harsh, but at least I know how to say Thank You, the least I can do.
For their stupidity and their ignorant.
And the most annoying thing they always say: "can I have your time?"
NO!
UNLESS YOU WANT ME TO RELEASEEEE THE KRAKEN!
NO!
NO!
UNLESS YOU WANT ME TO RELEASEEEE THE KRAKEN!
NO!
how can you ask for my precious sleeping time? eating time? pooping time?
NO!
NO!
EVER!
I'd rather give my time for my pups or cats, or plants. anything but listening to rubbish.
NO!
MY POOR EAR, NO!
MY POOR EAR, NO!
seriously.
Can people do smarter speech on the phone?
Or at least back to my idea, every sales come with CALLER ID, whether it's at home phone or mobile phone.
So I don't spend several minutes of my life yelling and cursing at people.
Seriously, stupid salesmen add several pounds of sins into my life.
It's irritatingly annoying.
And there's another sales that has a very strong and brave and shameless energy.
This one sales from Sinarmas, who keeps calling over my home phone and mobile phone, keep asking to speak to me, yet I pretend there's noone with that name in the house nor phone user.
It's really funny to see, how they are so persistent, even they offer their products to my maid (alright next time I will teach my retriever and my cats to answer phone so those salesmen will earn better salary by talking to more victims, YOU'RE WELCOME).
Or maybe I would speak different languages to see how they react. Maybe they speak alien language too, don't know.
Maybe they're one.
I shall be an honored predator to hunt each of their brains.
WOW.
Their persistent attitude is to be bowed at.
I might offer standing applause when they keep talking on the phone.
I might offer standing applause when they keep talking on the phone.
Even, EVEN if they call the wrong number/people, they keep offering what they have.
It's like "hello, I have no shame, let me tell you this........"
And I'm like, "FAGGOT!"
I am sorry for I might be offending...or not.
I don't feel sorry, because those sales don't feel sorry for wasting my time.
I might be very rude and offensive.
A friend of mine telling me: "hey don't be so harsh, can you imagine if you were treated that way?"
Well no, because I will never be one.
It's not even an option.
I am not good at talking anyway.
The company will surely fire me within 1 month anyway.
But sometimes the timing is not right, and I am extremely pissed off when my data is being distributed without my permission.
Do people even respect others' privacy?
Phone number is privacy. It's a space where I, supposedly, able to choose who can intrude my space and who can't.
Remember those old days where getting someone's phone number is like digging gold?
Your crush.
Your eye candy.
It's like HALLELUJAH!
Nowadays I guess to get my crush's phone number, I could easily sign for sales job and HUNT HIM DOWN!
OH YES!
OH YEAH!
creepy......
Remember those old days where getting someone's phone number is like digging gold?
Your crush.
Your eye candy.
It's like HALLELUJAH!
Nowadays I guess to get my crush's phone number, I could easily sign for sales job and HUNT HIM DOWN!
OH YES!
OH YEAH!
creepy......
But with this current condition, I don't have my own space.
It's like people can just step into my zone and they even have my banking data.
It's creepy.
It's like a cult.
I don't want to be in, but forced to be.
So what's the difference between those salesmen and those people who are religion or certain group fanatics?
It's the same.
People are so threatened by the existence of certain groups of religions or people who are DIFFERENT --well, if you know what I mean.
How can people not realize that this salesman activity is one of them?
They are creepily access all of our informations.
Name, phone number, even home address, bank account, insurance policy.
Everything.
What will happen in the future?
I am too scared to imagine.
But seriously.
It has to stop.
This is not right.
And I am badly concerned.
I really feel uncomfortable by this whole thing.
Each time I ask those salesman, where do they get my number, they always say it's confidential.
Well f*ck you, if it's confidential, so why can you, who I don't even know, can access my phone number and know my name?
And I always tell them, if they can't tell me where do they get it, don't dream to get time to talk to me.
PERIOD.
YOU, all telemarketer people are creepy.
Friday, April 5, 2013
Good day to be a tiger.
People,You can never change the way they feel,Better let them do just what they will,For they will,If you let them,Steal your heart from you,People,Will always make a lover feel a fool,But you knew I loved you,We could have shown them all,We should have seen love through,Kissing a fool, eh?
People, people tend (notice that I don't use the word 'always'?) to give score according to what's on surface.
To what they see, they feel, they think, and they experience.
But can we really give score about others just by those things?
People, see us, see me, see you, merely by what we wear, how we behave, how we speak, how we tell stories, how we talk to each other, how we think -referring back to 'how we talk to each other', how we act, how we eat, what we eat, what we have, who we are with.
But is that really?
What about what we do during late at night in our room alone?
What about the sobbing?
The crying?
The mourning?
The worrying?
The saddest things we feel?
Our anger?
Our disappointment?
Our pain?
The hurt?
The tears?
The broken heart?
The struggle?
The surviving mode?
The fight?
The battle?
Everything that you or anybody else cannot feel?
Your empathy does not make you better than I am or anybody else.
Your sense of logic does not make you any greater.
Your super power of feeling hurt and disappointed and betrayed does not make you any better person.
Everybody has been hurt before.
Greater pain or better recovery does not make us better than anybody else.
Everybody had their own battle in life.
You cannot simply judge, "Oh she's...." or "Oh I bet he is...."
just by words you hear, or things you think it's true.
Because nothing is truer than our own self in this entire universe.
That what makes human beings are such selfish bitches.
Yep, we are selfish bitches.
I admit that I tend to judge people simply by what they're wearing.
Example, who wears super mini skirt and super tower heels and all make up early in the morning at the airport to local destination?
Seriously.
First reaction: BIMBO.
Second reaction: meh, still bimbo.
I am sorry but that's reality.
I am a bitch just because I can. (:
But then who knows what she went through earlier that day? or the night before?
Maybe that
Maybe it's her way showing her tough side?
Maybe it's her way fighting her battle?
Inner battle?
You never know...
If you have judgement, just keep it to yourself.
Social media is not a good place to spread your inner selfish bitchiness.
But then, who am I to tell people what to do, right?
For what I know, social media is PERSONAL WAY of showing what we feel, see, touch, EAT, think, etc.
But then it does not mean you can spread your stupidity to the world.
I mean, do you want to look stupid?
Of course not.
Because best quote ever is:
A tiger does not lose sleep over the opinion of sheep.
You can give stupid opinion.
Well, unless you want to be a sheep.......?
Give smart opinion and be a tiger (:
Subscribe to:
Posts (Atom)