Showing posts with label wedding. Show all posts
Showing posts with label wedding. Show all posts

Thursday, April 16, 2015

differential.

Hello, udah berapa lama saya gak update blog ini ya?
Post terakhir di 2013. Dua tahun yang lalu. WOW!

Trust me, a lot of things happened in two years!

Mungkin saya gak pantes nulis post yang satu ini, atau mungkin banyak orang gak setuju sama apa yang mau saya tulis.
Tapi intinya disini, saya mau sharing apa yang selama ini saya rasain dan selalu jadi ganjelan di hati setiap kali issue ini muncul di hidup saya.
Saya gak ada maksud untuk menyinggung kalangan manapun atau menunjuk siapapun yang mungkin merasa "Kok ini orang kayak ngomongin saya?"
Point saya tulis apa yang nanti saya tulis bukan menunjuk pada masalah general yang jadi momok di lingkungan kita hidup, tapi yang jadi inti permasalahan adalah kenapa issue general itu selalu dihubung-hubungkan sama issue utama dari cerita saya.

Koin aja punya dua sisi, setiap cerita pasti ada dua sisi berbeda, dan ini sisi dari saya...

I am getting married.
Yes. Very soon.
And by very soon, it means I have to take care of all files in order for me to get legally married.

Karena berhubung agama saya Katolik, jadi ada serangkaian berkas yang harus saya urus, baik itu ke gereja atau juga ke ketua lingkungan dimana saya tinggal.
Dalam Katolik, dimanapun kita berdomisili, disitu pasti ada perkumpulan atau grup umat gereja di Paroki tersebut (baca: di lingkungan dimana kita tinggal pasti ada gereja terdekat, dan itu adalah pusatnya) yang tugasnya membantu umat sekitar untuk urusan berkas gereja, koordinasi acara, dan lain-lain.

Mungkin udah keliatan kemana arah cerita saya menuju ya?

Waktu saya urus berkas-berkas, muncul sebuah wacana yang gak pernah ada habisnya muncul terus dalam hidup saya.
Sebenarnya saya gak pernah take it seriously, atau ngerasa offended by it, atau juga tersinggung karena orang bring up issue ini.
Tapi selalu bikin saya mikir, kenapa beberapa kalangan orang selalu bikin hal ini jadi major issue dalam hidup mereka (setidaknya dari cara mereka bicara terkesan benar-benar against sama hal ini).
Nah dari major issue ini terus bercabang deh jadi beberapa issue yang menurut saya selalu dikait-kaitkan satu sama lain.
Saya gak pernah bilang salah atau benar, karena buat saya, saya gak pusingin hidup orang lain. Tapi karena kebetulan di dalam lingkup keluarga saya banyak yang kasusnya sama, issue ini nyentil saya banget.

Major issue disini adalah agama.
Sub-majornya yang pertama adalah perbedaan agama.

Saya pernah di posisi dimana saya punya hubungan sama orang yang beda agama dari saya.
Orang bilang kalau orang beda agama biasanya gak bertahan lama, atau kedepannya gak akan mulus/berakhir dengan baik, kalaupun ada, pasti rare case sekali dan bisa dihitung jari.
Terus orang bilang kalau beda agama urusnya sulit di Indonesia (ini bener).
Terus orang juga bilang kalau maksa nikah beda agama, nantinya bisa ribut gara-gara urusan agama itu.
Bla bla bla.
Kalau mau dikasih contoh bisa sampai besok gak habis saya tulis.
Kalau menurut saya, beda agama terus so what?
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah.
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah karena pengurusannya yang sulit dan dipersulit.
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah karena berpikir ke depannya bakal jadi problem dalam kehidupan mereka berdua.
Agama dijadiin issue buat gak jadi sama orang yang bener-bener kita sayang, itu masalah.

Saya gak bilang orang yang pindah agama demi pasangannya itu bukan orang yang benar, saya gak ada hak buat bilang seseorang itu benar atau tidak cuma karena dia pindah agama.
Saya percaya Tuhan itu satu.
Semua agama gak ada yang ajarin hal-hal buruk.
Kalau ada orang bilang agama A itu jelek atau agama B itu gak bener umatnya, buat saya orang itu gak ngerti bahwa itu dasarnya orang-orangnya saja yang jelek tabiatnya dan hidupnya gak bener tapi kebetulan orang yang dimaksud itu memeluk agama yang disangkut-sangkutkan.

Apa ada agama yang ajarin orang yang sudah menikah untuk bercerai dalam kondisi apapun?
Sejelek-jeleknya sebuah pernikahan, buat saya kalau sudah komitmen dari awal memilih pasangan itu sendiri tanpa ada paksaan dan sudah memutuskan buat menikah, tolong diingat lagi janji nikahnya seperti apa. Buat saya gak ada alasan cerai kecuali memang dipisahkan oleh maut.

Ada agama yang ajarin mencuri atau merampok?
Ada agama yang ajarin berdusta? Membunuh? Menyakiti orang lain?
Semua agama mengajarkan kasih.
Kasih sama Tuhannya, sama sesamanya, sama makhluk hidup lainnya, sama diri sendiri.

Terus balik lagi ke inti masalahnya, dimana agama jadi momok dalam soal pernikahan.
Kalau sudah sama agamanya, masalahnya ada lain lagi.
Sering ibadah bareng gak?
Suka berdoa bareng gak?
Terus kalau imannya gak kuat, nanti pernikahannya bisa hancur kalau ada cobaan berat yang menghadang.
Saya setuju kalau orang bilang sebuah pernikahan dasarnya/pusatnya/corenya itu Tuhan, karena menurut saya, dengan percaya sama Tuhan, orang punya rasa takut.
Takut bikin dosa, takut nyakitin orang lain, takut buat melakukan yang jahat atau negatif intinya kalau menurut saya sih.
Dan dengan semua rasa takut itu, otomatis seseorang jadi orang yg gak akan sia-siain pasangannya dalam cara apapun.
Tapi kalau orang bilang cuma karena gak pernah beribadah terus pernikahannya bisa goyah sih saya gak percaya dan gak akan pernah bisa terima pernyataan itu.
Kembali lagi bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, kalau ada orang yang memeluk agama apapun tapi tetap berbuat jahat sama orang, itu orangnya aja yang emang jahat, gak ada hubungan sama agamanya atau seberapa sering dia berdoa atau beribadah.
Manusia tidak ada yang sempurna dan manusia punya pilihan buat melakukan yang baik-baik atau yang jahat-jahat.
Saya cuma lihat masih banyak orang yang saya kenal atau lihat pakai mata kepala sendiri, rajin sih ibadahnya, cuma kehidupan sehari-hari sama orang lain gak mencerminkan ibadahnya.
Sekarang kalau ke tempat ibadah, di sana kita dengar pemimpin ibadahnya bicara mengenai hal-hal yang baik yang kita harusnya lakuin di dunia kan?
Kalau baru selesai ibadah, baru saja sampai di parkiran, terus ribut sama orang lain cuma gara-gara diserobot jalan keluarnya, apa itu sudah benar atau cukup ibadahnya?
Familiar sama hal-hal seperti itu?
Makanya saya gak pernah setuju orang mengukur iman orang lain (soal ukur-mengukur ini saja saya gak pernah setuju) cuma dari seberapa sering orang itu beribadah dan berdoa.
Tanpa tahu hidupnya sehari-hari orang tersebut seperti apa dan bagaimana.
Ada lagi kasus orang yang sepertinya (kelihatannya) sempurna; rajin beribadah, rajin nolongin orang lain, tapi di rumah atau di dalam lingkup keluarganya saja dia gamau turun tangan untuk bantu.
Kalau begitu apa dia orang benar? Cukup benar? Setengah benar?
Saya gak pernah mau pusingin hidup orang seperti apa, atau ibadahnya seperti apa, baik apa enggak orang itu sama keluarganya atau tetangganya, atau apapun soal agama orang lain.
Cukup dia sama Tuhannya saja yang tau, maka itu saya selalu ngerasa kadang orang terlalu "intim" mendadak kalau ngomongin soal agama, apalagi kalau tahu saya gak melakukan hal-hal pada umumnya yang seharusnya dilakukan oleh seorang Katolik. :p

Kembali ke kasus dimana rajin beribadah dan berdoa mendukung suksesnya sebuah pernikahan karena kalau ada benturan, doa akan menyelamatkan. Tuhan akan menyelamatkan.
Saya sudah pernah dengar banyak kasus kesaksian orang hampir bercerai, lantas karena berubah jadi rajin beribadah dan berdoa, serta rajin mendoakan istri/suaminya, tidak jadi bercerai. Atau suami/istrinya berubah jadi baik lagi. Ya semacam-macam begitu.
Sebuah hubungan (saya gausah jauh-jauh ngomongin pasangan suami istri), mau itu hubungan teman, pacaran, tetanggaan, apapun itu, selalu butuh dua orang untuk bisa jalan.
It takes two to tango. ALWAYS.
Itu yang saya yakinin.
Sebuah hubungan pasti ada ups and downs-nya, pasti ada cobaannya, mungkin hubungan pasangan itu lebih complex karena dua orang yang berkomitmen untuk menjalankan sebuah hubungan kan sifatnya intimate; ada sebuah janji, ada sebuah harapan sama mimpi. Jadi kalau ada masalah, biasanya lebih ruwet dan kalau berantem lebih heboh.
Tapi coba dipikir, namanya pasangan, kalau ada masalah, apa masalah itu timbul dari salah satu pihak saja?
Kembali lagi it takes two to tango.
Ada sebab ada akibat.
Dan setiap koin ada dua sisi.
Dan hal paling penting yang harus dijunjung tinggi dalam sebuah hubungan itu adalah komunikasi.
Mau berhubungan baik sama orang lain ya harus komunikasi yang baik.
Percuma punya rasa sayang kalau gak bisa berkomunikasi satu sama lain.
Suatu saat timbul masalah, apa rasa sayang saja cukup?
Kalau dua orang dalam satu hubungan sudah gak bisa komunikasi lagi, buat saya itu disaster.

Dengan komunikasi itu, nanti hal-hal baik pasti ikut muncul dengan sendirinya.
Faith.
Loyalty.
Honesty.
Trust.
Even love needs to be communicated, not only verbally but also with actions.

Saya gak perlu panjang-panjang jelasin kriteria cowok seperti apa yang saya mau, saya cukup bilang saya mau seseorang yang bisa saya ajak bicara dalam bentuk apapun dan nyambung sama saya. Itu sudah lebih dari cukup.
Dengan komunikasi yang baik, gak akan ada yang namanya misunderstanding.
Gak akan ada berantem berkepanjangan.
Dan yang saya maksud komunikasi disini bukan cuma ngomong ya, tapi juga dengerin. Give and take. Kalau cuma mau ngomong aja tanpa dengerin pasangan kita juga kan egois. Balik lagi setiap koin ada dua sisi.
Kalau ada misunderstanding ya dibicarakan.
Kalau ada sebuah issue, small or big, ya dibicarakan.

Terus apa hubungannya daritadi saya bicara tentang komunikasi sama inti masalahnya?

Simple-nya saya bisa bilang, Tuhan bantu kita kasih jalan kalau kita minta dalam doa, di waktu kita ngerasa buntu sama sebuah masalah. Tapi kalau kita nya juga gak usaha, apa semua bisa magically happens?
Saya percaya mukjijat dan berkat Tuhan, tapi saya gak percaya orang yang cuma diam saja gak mau melakukan apa-apa itu hidupnya lancar-lancar saja.
Berserah sama menyerah itu beda.
Yang satu itu tetap berusaha tapi menjalani apa adanya, yang satu lagi gak mau berusaha sama sekali.
Saya rasa Tuhan juga bisa lihat mana yang berserah mana yang menyerah.
Kalau ada orang yang menyerah, yang dikasih kemudahan dalam hidupnya sama Tuhannya, coba kenalan/kenalin sama saya.
Di balik orang ngomong "I give up" itu masih ada hope, ada pengharapan.
Kasarnya saya bilang, masih ngarep.
Tapi kalau ngarepnya mukjijat terjadi begitu aja kayak sulap terus semuanya tiba-tiba bim salabim baik-baik saja, sampai langit tukeran posisi sama air laut juga gak akan pernah dapet mukjijatnya.

Balik lagi ke cerita yang saya mau sharing.
Sorry kalau ada yang offended sama cerita saya, tapi saya gak ada maksud apa-apa cerita ini semua.
Papa saya lahir di keluarga yang Kristennya cukup kental, mama saya dari keluarga Katolik.
Waktu nikah, papa kayaknya pindah agama karena sekarang saya tahunya di KTP tulisannya ya Katolik dan juga terdaftar sebagai kepala keluarga yang sah di kartu keluarga paroki gereja dimana saya berdomisili (kalau di Katolik, kalau kepala keluarga (papa) bukan beragama Katolik, maka istrinya yang punya titel kepala keluarga di kartu keluarga tersebut, saya juga baru tahu soal ini).
Saya gak begitu tahu alasannya kenapa, tapi saya tahu, nenek dari papa saya selalu pesan begini: "Kalau seorang laki-laki benar-benar mencintai perempuannya, maka dia harus ikut agama pasangannya kalau ingin menikah."
Mungkin itu alasan kenapa papa saya pindah, atau mungkin plain love with my mom back then.
Who knows, and I don't bother to ask why, all I know I am loved by them and they are perfectly in good relationship until this very second.

Itu kan dari keluarga inti saya.
Kakak dari papa saya menikah dengan seorang muslim. Dan sekarang mereka berdua sudah resmi menjadi Bapak Haji dan Ibu Hajjah.
Dan sampai detik ini pernikahan mereka baik-baik saja, dan kita sekeluarga besar juga baik-baik saja.

Dan itu masih dalam lingkup keluarga saya juga.
Calon suami saya punya orang tua yang juga beda agama.
Dan mereka perfectly fine sampai detik ini juga.

Jadi, apa agama itu jadi masalah buat sebuah pernikahan?
Apa kalau beda agama itu jadi masalah?

Itu kan cuma paradigma orang dan society yang selalu memicingkan mata kalau ada dua pasang laki-laki dan perempuan dengan agama yang berbeda ingin menjalin hubungan.
Gausah jauh-jauh ngomongin pernikahan, pacaran aja belum tentu disetujuin.

Papa saya selalu bilang, cari orang yang benar.
Tapi sebelum cari orang benar itu, kamu harus jadi orang yang benar dulu.
Jadi kamu tahu mana yang benar mana yang salah.
Dan itu yang saya pegang sampai detik ini.

Saya gak pernah ada maksud bilang orang gausah beribadah lagi, gausah berdoa lagi, atau gapapa kalau cari pasangan yang gak ngelakuin itu semua. Enggak.
Setiap orang punya prinsip sendiri-sendiri.
Prinsip saya ya seperti yang papa saya pesankan, cari orang yang benar.
Karena buat saya lebih baik saya sama orang yang tahu bagaimana harus menjalani hidup, daripada orang yang fanatik sama agamanya tapi gatau bagaimana menghargai orang lain dan makhluk hidup lainnya.
Kalau bisa dapat yang ibadahnya kuat PLUS orang benar, itu kan kayak dapat harta karun, dan kalau ada yang dapat itu, bersyukurlah, karena Tuhan itu baik sekali.
Lakukan yang menurut kamu benar, selama itu gak menyakiti orang lain dalam bentuk apapun. (:
Dan sebelum kamu judge kehidupan orang lain, coba diinget dulu seberapa sempurna hidup kamu?

mel

Monday, January 28, 2013

Once Upon A Time.

I am 25 and I am not married.

What's the big deal?
Many people are getting married after 25 or even in their 30s.
So what's the big deal?

The deal is probably not big but sure there are a few.

Once upon a time there was a little girl who dreamed to have a beautiful man, a beautiful dress, and a beautiful place to get married. And they lived happily ever after.

Sounds familiar?
I bet.

But in reality, it bites you in ass, big time.
Marriage used to be so easy.
It's either your parents chose your mate or you met your "The One" and got married.
Economical issue has been playing big part in today's society.
Many things related to financial have become major issue in why people nowadays are getting married in late age compared to years back.

Maybe it's true.
Maybe marriage is not always about love.
Marriage takes two people in love, and bunch of big families to dwell, and of course money to make it happen.

What if you don't have the money?
You earn it with sweat and blood.

What if you don't have "The One"?
Find it.

What if there's a problem with big families?
Solve it.

Oh God I wish it were that easy.
Oh wait, maybe it is, that easy.
Maybe we complicate things, no?

Once upon a time there was a little girl who dreamed to have a beautiful man, a beautiful dress, and a beautiful place to get married. But as years went by, she had no idea her dream would be one day become disheartening. That little girl had become a grown up woman who had better and clear vision of what her dream was about. She wanted it to become real as soon as possible because after all, she was a woman. She had vision, ambition, big dream, and good plan to accomplish that. But, one day she realized that her dream takes more than herself to achieve. She needed someone, her other half, to reach that dream. She had second thought whether this man she had been dating with was the right one or not. Because if he were, wouldn't it be easy? As time went by like speed of light. She saw her dream slowly faded after some times. But she kept on persistent with what she believed in. So she pushed, she asked for it, and she demanded it. But she forgot that, again, it takes more than herself to accomplish this task. One day she knew everything would disappear as she blinked away. She did. She chose to. Probably because she had no choice left. When that day came, she smiled and told herself "Hey, this isn't so bad, maybe next year. Maybe. Who knows? Who knows what the future holds." And she kept believe in, although she began to doubt the thought of it. Another year passed by and she saw her dream crashed, landed in pieces in front of her eyes, again. And again, she smiled and told herself, "It's okay. It won't be too long. You just have to be patient and wait. Because patient brings fruitful joy." And so that what everybody was telling her. So she listened. Because she knew there was no way she could run to grasp the dream. One day she asked the same question again, just to reassure how it was going to be. When it was going to happen. Because after all, what she needed was just security and assurance --a proof, a visible proof, that it was going to happen, for real. So that she had something to keep in mind, something she carried along to face her bright future, her days. Something she could believe in. Something that made her trust her dream, trust people, and trust reality. Something that she could smile about for every single day. Something she had to fight for. Something she hold on. But I guess what she wanted was too much. She began to think, it was not going to happen. She began to think, she was such a maniac, a lunatic, a silly human being who kept on thinking about the dream. Rather than creating path to get there. Poor her, she was so naive. One year had passed. She began to learn how to shut her dream down and moved on. But reality really bit her. Questions came. She was not even ready. She just didn't want to answer. Because she had no something she wished she had. She never blamed anybody else for what had happened. Because she knew it very well, it was not easy so she wouldn't want to push any further. Her dream crashed and so did she. She once wondered if she would eventually meet her beautiful man, beautiful dress, and beautiful place to grasp her dream. But she then told herself, "Look, it's impossible. Just forget it. It has hurt you so much. Why would you want to hurt yourself even more? You know it very well it is not easy. And you know it too well, it takes more than who you are, what you are, yourself, to achieve that. And who are you, being able to control every single effing things on this earth? You are just a naive and a dreamer. And have some dignity in you. You are a woman, a grown up woman, for Godsake. Just live in reality. Face it. Grow up!" And so she did. Would she live happily ever after by herself? Who knows. Who knows what the future holds. All she had in mind is how to keep her heart from being broken again. Not a slightest chance. The end.

Friday, December 23, 2011

marry you.

Sekilas kalau mikirin soal pernikahan itu sepertinya gampang ya?
Dua orang saling mencintai, berjanji, berkomitmen untuk bersama-sama sampai maut memisahkan.
Ke KUA, catatan sipil, pemberkatan, resepsi........honey moon = HAPPILY EVER AFTER

really?

NGAREP

Nyatanya banyak kasus nyata kalau nikah itu sulit!
Gausah jauh-jauh contohnya, saya ngacung deh buat soal yang satu ini.

Kemarin ini sempat membicarakan cerita masa depan berdua.
Dari soal mau beli rumah aja sudah ribut.
Berlanjut ke masalah resepsi pernikahan, pemberkatan pernikahan (secara agama kita berbeda).
Terus belum cukup semua keribetan itu, ditambah lagi sebuah kenyataan besar: saya SUKA anjing, dia GASUKA anjing.

Bukan tidak suka yang gimana-gimana banget, cuma beberapa "ritual" khas di rumah sekarang adalah:
1. setiap malam anjing selalu masuk kamar dan kadang bobok bareng satu ranjang
2. setiap saat hobi cium-cium anjing kesayangan dan elus-elus gak pake cuci tangan (kecuali mau makan)
3. si doggy bebas naik turun sofa dan nonton tv kapanpun dia mau (hahaha lebay juga bagian nonton tv)

Dan hal-hal disebutkan di atas bisa jadi sebuah hal super penting yang beberapa orang tidak sukai.

Belum cukup mencoba adaptasi dan mengerti keanehan-keanehan di awal, harus juga berusaha mengakrabkan diri dengan keluarga besar kedua belah pihak (ya iyalah emang nikah cuma antara suami sama istri doang?)
Nah, terbayang belum ribetnya?
Saya sih sudah.

Belum lagi masalah materi.
Nikah buat saya bukan cuma sebuah kecukupan mental, jiwa, raga, atau sekedar SIAP.
Tapi materi juga harus siap.
Mau makan apa kalau kerja aja masih serabutan atau gaji selalu habis tiap awal bulan?
Mau beli bahan makanan pakai apa kalau pengeluaran masih lebih besar ketimbang pemasukan?
Mau bayar rumah sakit bagaimana kalau istri melahirkan, kalau setiap bulan masih bergantung limit kartu kredit?
Wah, jujur saya ngeri bayanginnya.
Bagaimana saya memenuhi kebutuhan saya selama ini yang 50% masih disupport orang tua?
Apakah nanti suami saya sanggup memenuhi kebutuhan saya?

Despite all the arguments and quarrels I mentioned above, lucky me I have a super understanding man for this needs issue.

Mungkin banyak pasangan yang melakukan hal yang saya lakukan bersama si pacar.
Mungkin sistemnya lain, tapi intinya, kita berusaha, dia berusaha untuk belajar memenuhi kebutuhan saya setiap bulan.
Kebutuhan terbesar saya sebenarnya bukan baju, bukan perhiasan, bukan barang-barang.
Kebutuhan terbesar, pengeluaran terbesar lebih tepatnya, adalah MAKAN.
Iya, makanan adalah pengeluaran terbesar saya setiap bulannya.

Saya suka makan, hobi makan, pemburu makanan, dan sangat cinta makanan enak.
Intinya saya 70% menghabiskan saat-saat makan saya di luar.
Atau saya sering berkunjung ke restoran atau tempat favorit saya.
Jadi setiap bulan, si pacar memberikan alokasi dana dengan jumlah yang sama, untuk pengeluaran makan (baca: have fun).
Kalau sampai melebihi budget yang ada, bulan depan akan dipotong sesuai dengan kekurangan bulan sebelumnya. Kalau lebih akan dimasukkan tabungan bersama milik kami berdua.
Kesannya seru ya?
Seru kalau bisa mengerem hobi makan saya.
Sayangnya kadang kalau pas sedang ngidam ini itu, susah banget untuk stop diri untuk tidak makan ini atau itu.
Alhasil kadang setiap bulan pas habis atau dengan terpaksa menunda keinginan untuk makan ini itu.
Tapi kalau sekarang mengecek saldo tabungan, rasanya senang banget.
Karena tabungan itu rencananya akan digunakan untuk membeli barang-barang untuk mengisi rumah kita kelak di masa depan (aduh berasa lama ya).

I appreciate his willingness to understand and try to fulfill my personal needs. It also helps myself to adjust my needs --to spend only with what I've got.
Eitherway it's a good exercise for our future life as family. Early learning/education is always a good start to step into a bigger world, right? ( :

Anyway, seiring berjalannya waktu (awalnya susah banget untuk ngerem keinginan saya untuk makan ini itu di saat yang berdekatan), saya belajar untuk menghargai yang saya punya dan sebisa mungkin lebih banyak menabung ketimbang membuang uang untuk makan makanan mahal yang kadang belum tentu enak ( :
Tapi itu tidak menghentikan hobi saya sebagai food hunter. Hanya saja sekarang lebih pintar memilah ( ;

Lagipula, sekarang kita berdua sama-sama sibuk, jadinya jarang ada waktu untuk keluar makan yang terlalu jauh, karena biasanya kerjaan kita berdua baru selesai di sore menjelang malam, sama-sama terlalu capek untuk keluar ke area Jakarta.

In conclusion, I guess I am not ready to get married, just yet.
Let's do things we can do while we are still young (and not married)!


cheers,

meL