I AM MARRIED!
My last post was in April 2015, in which I was already engaged and preparing my wedding and now I am married (officially and finally).
What is the big deal of getting married anyway?
Why marriage seems like the last destination in people's head when we are getting older?
Is it really the last destination?
Is it true when people say marriage is like you are losing your freedom and yourself?
Because you are no longer a single human being, but two becomes one?
Is it true when men are so afraid with the commitment, thus they are afraid of marriage?
Is it true when people are so scared of getting married equals to commitment issue?
Well I am no expert, my marriage has been just 8 months old, but so much I have learned, so much I have changed along these past 8 months.
Many people ask me, by many I mean MOST PEOPLE, ask me how does life after marriage?
Well to me, life does not change that much.
I am still me, the old me, do things I do daily: work, play, have fun, go out with friends.
The differences are just: ring on my finger, wake up and go to bed with a man in my bed (which is pretty bizarre since I spent almost 27 years of my life sleeping alone), I have to do house chores more since I moved out from my parent's house, and I am a happier woman (: (oh should I count that I do laundry for men clothes now?)
The rest of my life is pretty much the same, we go out on dates, we shop groceries together, we go out for dinner, and we still go out to mall or other places walking hand in hand.
The other things that are new to me are: people questioning when will I be expecting, when I am not with my husband people ask where is he and why did not he come with me, and another common one is where do we stay right now.
To me, first few months were another level of hell.
Why so?
I do not know about other married couples, but we fought a lot and most issues were silly stuffs.
Mostly I think it was adaptation phase between two human beings with two different (family) backgrounds or lifestyles.
Like how my husband used to let the exhaust/bathroom light on.
To me it is a big NO since I am an energy saving freak.
I would say it used to be a trigger, or an initial issue that overlapped with another.
Like a snowball, things turned worse and we met hardship, thus we shout to each other and made things even worse.
But then we carried something from our dating phase relationship, one thing that we will never throw away; our ability to addressing elephant in the room and find solution.
I think it is our strong suit as a couple, no matter what we never want to go to bed mad to each other.
And we always remember our wedding vow, no matter what we are one and we shall walk together until the end of time.
Cliche as it sounds, to me, it is the key to a healthy and strong relationship. Married or not just yet.
What's hard for me is to adapt how to stay mad with the person who annoys you nearby.
Well our house is so small that even when you stay inside bedroom and he is outside, you can hear his breathing and when you are mad, believe me, his presence is the most annoying thing in the world at that very moment and I am tortured.
I cannot think clear and I cannot calm myself.
Then you have to deal with household, like cooking for the two of you.
What happens when you cook while you mad?
Well bad things happen.
Slowly but sure, I manage to adjust and manage myself to adapt with the situation.
Well we must take baby steps until we are full grown, right?
There was time when I thought I could not take anything anymore.
We fought constantly for days, continuously. Nonstop.
I am tired. He is tired.
I am overwhelmed with stuffs.
He is overworked himself.
Stress.
Tired.
We fight.
I am tired of explaining myself and expecting him to understand.
He is tired hearing my shouting voice and reluctant to make amend.
Well basically love turns into war.
I wanted to run away.
I wanted to say it is over.
I wanted to say how I hate this man so much.
I wanted to give up.
But then I realised one thing.
We get married, not to become somebody else we were not.
Not to become someone that our loved one likes or wants.
Not to lose ourselves.
Not to lose our freedom.
Not to lose parts of ourselves.
And most importantly not to lose our life.
We decide to get married because we love that special one and we want to share our life, our love with them.
To raise a family.
To build a home.
And most certain not to lose our freedom to live life we want, because we choose to stay our relationship and to move it further.
When we are married, we are not bound by our wedding vows.
Not be bound by our religion rules --til death do us part.
Not to be bound by a piece of marriage certificate.
Not to be bound by these rings.
When we are married, we have option, we have freedom, we have chance to run away or stay, to walk away alone or move forward together.
When we are married, we still have choice to stay or go, but we choose to stay, because we want to fight for whatever we initially started.
When people say their lives are taken away because of marriage or their spouse or their kids, I can safely say, they are jerks.
You chose your love in the first place, what makes you think somebody done you wrong and turn your life around, when you, yourself, was aware with your own choice.
That kind of bullshit, I often hear, people regret their decision.
Well, suck it up because you play the game without knowing the rules and judge the game is bad because you are suck at it. Or blame the other players.
To me personally, the key is to understand, some things are meant to be accepted, not understood.
Reflect to yourself and talk. Communication is your bff.
As my husband always say, happy wife, happy life.
True to that, happy husband = happy wife = happy life (:
Make each other happy, it is a never-ending effort. Lifetime.
Cheers,
mel
Showing posts with label marriage. Show all posts
Showing posts with label marriage. Show all posts
Tuesday, April 26, 2016
Thursday, April 16, 2015
differential.
Hello, udah berapa lama saya gak update blog ini ya?
Post terakhir di 2013. Dua tahun yang lalu. WOW!
Trust me, a lot of things happened in two years!
Mungkin saya gak pantes nulis post yang satu ini, atau mungkin banyak orang gak setuju sama apa yang mau saya tulis.
Tapi intinya disini, saya mau sharing apa yang selama ini saya rasain dan selalu jadi ganjelan di hati setiap kali issue ini muncul di hidup saya.
Saya gak ada maksud untuk menyinggung kalangan manapun atau menunjuk siapapun yang mungkin merasa "Kok ini orang kayak ngomongin saya?"
Point saya tulis apa yang nanti saya tulis bukan menunjuk pada masalah general yang jadi momok di lingkungan kita hidup, tapi yang jadi inti permasalahan adalah kenapa issue general itu selalu dihubung-hubungkan sama issue utama dari cerita saya.
Koin aja punya dua sisi, setiap cerita pasti ada dua sisi berbeda, dan ini sisi dari saya...
I am getting married.
Yes. Very soon.
And by very soon, it means I have to take care of all files in order for me to get legally married.
Karena berhubung agama saya Katolik, jadi ada serangkaian berkas yang harus saya urus, baik itu ke gereja atau juga ke ketua lingkungan dimana saya tinggal.
Dalam Katolik, dimanapun kita berdomisili, disitu pasti ada perkumpulan atau grup umat gereja di Paroki tersebut (baca: di lingkungan dimana kita tinggal pasti ada gereja terdekat, dan itu adalah pusatnya) yang tugasnya membantu umat sekitar untuk urusan berkas gereja, koordinasi acara, dan lain-lain.
Mungkin udah keliatan kemana arah cerita saya menuju ya?
Waktu saya urus berkas-berkas, muncul sebuah wacana yang gak pernah ada habisnya muncul terus dalam hidup saya.
Sebenarnya saya gak pernah take it seriously, atau ngerasa offended by it, atau juga tersinggung karena orang bring up issue ini.
Tapi selalu bikin saya mikir, kenapa beberapa kalangan orang selalu bikin hal ini jadi major issue dalam hidup mereka (setidaknya dari cara mereka bicara terkesan benar-benar against sama hal ini).
Nah dari major issue ini terus bercabang deh jadi beberapa issue yang menurut saya selalu dikait-kaitkan satu sama lain.
Saya gak pernah bilang salah atau benar, karena buat saya, saya gak pusingin hidup orang lain. Tapi karena kebetulan di dalam lingkup keluarga saya banyak yang kasusnya sama, issue ini nyentil saya banget.
Major issue disini adalah agama.
Sub-majornya yang pertama adalah perbedaan agama.
Saya pernah di posisi dimana saya punya hubungan sama orang yang beda agama dari saya.
Orang bilang kalau orang beda agama biasanya gak bertahan lama, atau kedepannya gak akan mulus/berakhir dengan baik, kalaupun ada, pasti rare case sekali dan bisa dihitung jari.
Terus orang bilang kalau beda agama urusnya sulit di Indonesia (ini bener).
Terus orang juga bilang kalau maksa nikah beda agama, nantinya bisa ribut gara-gara urusan agama itu.
Bla bla bla.
Kalau mau dikasih contoh bisa sampai besok gak habis saya tulis.
Kalau menurut saya, beda agama terus so what?
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah.
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah karena pengurusannya yang sulit dan dipersulit.
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah karena berpikir ke depannya bakal jadi problem dalam kehidupan mereka berdua.
Agama dijadiin issue buat gak jadi sama orang yang bener-bener kita sayang, itu masalah.
Saya gak bilang orang yang pindah agama demi pasangannya itu bukan orang yang benar, saya gak ada hak buat bilang seseorang itu benar atau tidak cuma karena dia pindah agama.
Saya percaya Tuhan itu satu.
Semua agama gak ada yang ajarin hal-hal buruk.
Kalau ada orang bilang agama A itu jelek atau agama B itu gak bener umatnya, buat saya orang itu gak ngerti bahwa itu dasarnya orang-orangnya saja yang jelek tabiatnya dan hidupnya gak bener tapi kebetulan orang yang dimaksud itu memeluk agama yang disangkut-sangkutkan.
Apa ada agama yang ajarin orang yang sudah menikah untuk bercerai dalam kondisi apapun?
Sejelek-jeleknya sebuah pernikahan, buat saya kalau sudah komitmen dari awal memilih pasangan itu sendiri tanpa ada paksaan dan sudah memutuskan buat menikah, tolong diingat lagi janji nikahnya seperti apa. Buat saya gak ada alasan cerai kecuali memang dipisahkan oleh maut.
Ada agama yang ajarin mencuri atau merampok?
Ada agama yang ajarin berdusta? Membunuh? Menyakiti orang lain?
Semua agama mengajarkan kasih.
Kasih sama Tuhannya, sama sesamanya, sama makhluk hidup lainnya, sama diri sendiri.
Terus balik lagi ke inti masalahnya, dimana agama jadi momok dalam soal pernikahan.
Kalau sudah sama agamanya, masalahnya ada lain lagi.
Sering ibadah bareng gak?
Suka berdoa bareng gak?
Terus kalau imannya gak kuat, nanti pernikahannya bisa hancur kalau ada cobaan berat yang menghadang.
Saya setuju kalau orang bilang sebuah pernikahan dasarnya/pusatnya/corenya itu Tuhan, karena menurut saya, dengan percaya sama Tuhan, orang punya rasa takut.
Takut bikin dosa, takut nyakitin orang lain, takut buat melakukan yang jahat atau negatif intinya kalau menurut saya sih.
Dan dengan semua rasa takut itu, otomatis seseorang jadi orang yg gak akan sia-siain pasangannya dalam cara apapun.
Tapi kalau orang bilang cuma karena gak pernah beribadah terus pernikahannya bisa goyah sih saya gak percaya dan gak akan pernah bisa terima pernyataan itu.
Kembali lagi bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, kalau ada orang yang memeluk agama apapun tapi tetap berbuat jahat sama orang, itu orangnya aja yang emang jahat, gak ada hubungan sama agamanya atau seberapa sering dia berdoa atau beribadah.
Manusia tidak ada yang sempurna dan manusia punya pilihan buat melakukan yang baik-baik atau yang jahat-jahat.
Saya cuma lihat masih banyak orang yang saya kenal atau lihat pakai mata kepala sendiri, rajin sih ibadahnya, cuma kehidupan sehari-hari sama orang lain gak mencerminkan ibadahnya.
Sekarang kalau ke tempat ibadah, di sana kita dengar pemimpin ibadahnya bicara mengenai hal-hal yang baik yang kita harusnya lakuin di dunia kan?
Kalau baru selesai ibadah, baru saja sampai di parkiran, terus ribut sama orang lain cuma gara-gara diserobot jalan keluarnya, apa itu sudah benar atau cukup ibadahnya?
Familiar sama hal-hal seperti itu?
Makanya saya gak pernah setuju orang mengukur iman orang lain (soal ukur-mengukur ini saja saya gak pernah setuju) cuma dari seberapa sering orang itu beribadah dan berdoa.
Tanpa tahu hidupnya sehari-hari orang tersebut seperti apa dan bagaimana.
Ada lagi kasus orang yang sepertinya (kelihatannya) sempurna; rajin beribadah, rajin nolongin orang lain, tapi di rumah atau di dalam lingkup keluarganya saja dia gamau turun tangan untuk bantu.
Kalau begitu apa dia orang benar? Cukup benar? Setengah benar?
Saya gak pernah mau pusingin hidup orang seperti apa, atau ibadahnya seperti apa, baik apa enggak orang itu sama keluarganya atau tetangganya, atau apapun soal agama orang lain.
Cukup dia sama Tuhannya saja yang tau, maka itu saya selalu ngerasa kadang orang terlalu "intim" mendadak kalau ngomongin soal agama, apalagi kalau tahu saya gak melakukan hal-hal pada umumnya yang seharusnya dilakukan oleh seorang Katolik. :p
Kembali ke kasus dimana rajin beribadah dan berdoa mendukung suksesnya sebuah pernikahan karena kalau ada benturan, doa akan menyelamatkan. Tuhan akan menyelamatkan.
Saya sudah pernah dengar banyak kasus kesaksian orang hampir bercerai, lantas karena berubah jadi rajin beribadah dan berdoa, serta rajin mendoakan istri/suaminya, tidak jadi bercerai. Atau suami/istrinya berubah jadi baik lagi. Ya semacam-macam begitu.
Sebuah hubungan (saya gausah jauh-jauh ngomongin pasangan suami istri), mau itu hubungan teman, pacaran, tetanggaan, apapun itu, selalu butuh dua orang untuk bisa jalan.
It takes two to tango. ALWAYS.
Itu yang saya yakinin.
Sebuah hubungan pasti ada ups and downs-nya, pasti ada cobaannya, mungkin hubungan pasangan itu lebih complex karena dua orang yang berkomitmen untuk menjalankan sebuah hubungan kan sifatnya intimate; ada sebuah janji, ada sebuah harapan sama mimpi. Jadi kalau ada masalah, biasanya lebih ruwet dan kalau berantem lebih heboh.
Tapi coba dipikir, namanya pasangan, kalau ada masalah, apa masalah itu timbul dari salah satu pihak saja?
Kembali lagi it takes two to tango.
Ada sebab ada akibat.
Dan setiap koin ada dua sisi.
Dan hal paling penting yang harus dijunjung tinggi dalam sebuah hubungan itu adalah komunikasi.
Mau berhubungan baik sama orang lain ya harus komunikasi yang baik.
Percuma punya rasa sayang kalau gak bisa berkomunikasi satu sama lain.
Suatu saat timbul masalah, apa rasa sayang saja cukup?
Kalau dua orang dalam satu hubungan sudah gak bisa komunikasi lagi, buat saya itu disaster.
Dengan komunikasi itu, nanti hal-hal baik pasti ikut muncul dengan sendirinya.
Faith.
Loyalty.
Honesty.
Trust.
Even love needs to be communicated, not only verbally but also with actions.
Saya gak perlu panjang-panjang jelasin kriteria cowok seperti apa yang saya mau, saya cukup bilang saya mau seseorang yang bisa saya ajak bicara dalam bentuk apapun dan nyambung sama saya. Itu sudah lebih dari cukup.
Dengan komunikasi yang baik, gak akan ada yang namanya misunderstanding.
Gak akan ada berantem berkepanjangan.
Dan yang saya maksud komunikasi disini bukan cuma ngomong ya, tapi juga dengerin. Give and take. Kalau cuma mau ngomong aja tanpa dengerin pasangan kita juga kan egois. Balik lagi setiap koin ada dua sisi.
Kalau ada misunderstanding ya dibicarakan.
Kalau ada sebuah issue, small or big, ya dibicarakan.
Terus apa hubungannya daritadi saya bicara tentang komunikasi sama inti masalahnya?
Simple-nya saya bisa bilang, Tuhan bantu kita kasih jalan kalau kita minta dalam doa, di waktu kita ngerasa buntu sama sebuah masalah. Tapi kalau kita nya juga gak usaha, apa semua bisa magically happens?
Saya percaya mukjijat dan berkat Tuhan, tapi saya gak percaya orang yang cuma diam saja gak mau melakukan apa-apa itu hidupnya lancar-lancar saja.
Berserah sama menyerah itu beda.
Yang satu itu tetap berusaha tapi menjalani apa adanya, yang satu lagi gak mau berusaha sama sekali.
Saya rasa Tuhan juga bisa lihat mana yang berserah mana yang menyerah.
Kalau ada orang yang menyerah, yang dikasih kemudahan dalam hidupnya sama Tuhannya, coba kenalan/kenalin sama saya.
Di balik orang ngomong "I give up" itu masih ada hope, ada pengharapan.
Kasarnya saya bilang, masih ngarep.
Tapi kalau ngarepnya mukjijat terjadi begitu aja kayak sulap terus semuanya tiba-tiba bim salabim baik-baik saja, sampai langit tukeran posisi sama air laut juga gak akan pernah dapet mukjijatnya.
Balik lagi ke cerita yang saya mau sharing.
Sorry kalau ada yang offended sama cerita saya, tapi saya gak ada maksud apa-apa cerita ini semua.
Papa saya lahir di keluarga yang Kristennya cukup kental, mama saya dari keluarga Katolik.
Waktu nikah, papa kayaknya pindah agama karena sekarang saya tahunya di KTP tulisannya ya Katolik dan juga terdaftar sebagai kepala keluarga yang sah di kartu keluarga paroki gereja dimana saya berdomisili (kalau di Katolik, kalau kepala keluarga (papa) bukan beragama Katolik, maka istrinya yang punya titel kepala keluarga di kartu keluarga tersebut, saya juga baru tahu soal ini).
Saya gak begitu tahu alasannya kenapa, tapi saya tahu, nenek dari papa saya selalu pesan begini: "Kalau seorang laki-laki benar-benar mencintai perempuannya, maka dia harus ikut agama pasangannya kalau ingin menikah."
Mungkin itu alasan kenapa papa saya pindah, atau mungkin plain love with my mom back then.
Who knows, and I don't bother to ask why, all I know I am loved by them and they are perfectly in good relationship until this very second.
Itu kan dari keluarga inti saya.
Kakak dari papa saya menikah dengan seorang muslim. Dan sekarang mereka berdua sudah resmi menjadi Bapak Haji dan Ibu Hajjah.
Dan sampai detik ini pernikahan mereka baik-baik saja, dan kita sekeluarga besar juga baik-baik saja.
Dan itu masih dalam lingkup keluarga saya juga.
Calon suami saya punya orang tua yang juga beda agama.
Dan mereka perfectly fine sampai detik ini juga.
Jadi, apa agama itu jadi masalah buat sebuah pernikahan?
Apa kalau beda agama itu jadi masalah?
Itu kan cuma paradigma orang dan society yang selalu memicingkan mata kalau ada dua pasang laki-laki dan perempuan dengan agama yang berbeda ingin menjalin hubungan.
Gausah jauh-jauh ngomongin pernikahan, pacaran aja belum tentu disetujuin.
Papa saya selalu bilang, cari orang yang benar.
Tapi sebelum cari orang benar itu, kamu harus jadi orang yang benar dulu.
Jadi kamu tahu mana yang benar mana yang salah.
Dan itu yang saya pegang sampai detik ini.
Saya gak pernah ada maksud bilang orang gausah beribadah lagi, gausah berdoa lagi, atau gapapa kalau cari pasangan yang gak ngelakuin itu semua. Enggak.
Setiap orang punya prinsip sendiri-sendiri.
Prinsip saya ya seperti yang papa saya pesankan, cari orang yang benar.
Karena buat saya lebih baik saya sama orang yang tahu bagaimana harus menjalani hidup, daripada orang yang fanatik sama agamanya tapi gatau bagaimana menghargai orang lain dan makhluk hidup lainnya.
Kalau bisa dapat yang ibadahnya kuat PLUS orang benar, itu kan kayak dapat harta karun, dan kalau ada yang dapat itu, bersyukurlah, karena Tuhan itu baik sekali.
Lakukan yang menurut kamu benar, selama itu gak menyakiti orang lain dalam bentuk apapun. (:
Dan sebelum kamu judge kehidupan orang lain, coba diinget dulu seberapa sempurna hidup kamu?
mel
Post terakhir di 2013. Dua tahun yang lalu. WOW!
Trust me, a lot of things happened in two years!
Mungkin saya gak pantes nulis post yang satu ini, atau mungkin banyak orang gak setuju sama apa yang mau saya tulis.
Tapi intinya disini, saya mau sharing apa yang selama ini saya rasain dan selalu jadi ganjelan di hati setiap kali issue ini muncul di hidup saya.
Saya gak ada maksud untuk menyinggung kalangan manapun atau menunjuk siapapun yang mungkin merasa "Kok ini orang kayak ngomongin saya?"
Point saya tulis apa yang nanti saya tulis bukan menunjuk pada masalah general yang jadi momok di lingkungan kita hidup, tapi yang jadi inti permasalahan adalah kenapa issue general itu selalu dihubung-hubungkan sama issue utama dari cerita saya.
Koin aja punya dua sisi, setiap cerita pasti ada dua sisi berbeda, dan ini sisi dari saya...
I am getting married.
Yes. Very soon.
And by very soon, it means I have to take care of all files in order for me to get legally married.
Karena berhubung agama saya Katolik, jadi ada serangkaian berkas yang harus saya urus, baik itu ke gereja atau juga ke ketua lingkungan dimana saya tinggal.
Dalam Katolik, dimanapun kita berdomisili, disitu pasti ada perkumpulan atau grup umat gereja di Paroki tersebut (baca: di lingkungan dimana kita tinggal pasti ada gereja terdekat, dan itu adalah pusatnya) yang tugasnya membantu umat sekitar untuk urusan berkas gereja, koordinasi acara, dan lain-lain.
Mungkin udah keliatan kemana arah cerita saya menuju ya?
Waktu saya urus berkas-berkas, muncul sebuah wacana yang gak pernah ada habisnya muncul terus dalam hidup saya.
Sebenarnya saya gak pernah take it seriously, atau ngerasa offended by it, atau juga tersinggung karena orang bring up issue ini.
Tapi selalu bikin saya mikir, kenapa beberapa kalangan orang selalu bikin hal ini jadi major issue dalam hidup mereka (setidaknya dari cara mereka bicara terkesan benar-benar against sama hal ini).
Nah dari major issue ini terus bercabang deh jadi beberapa issue yang menurut saya selalu dikait-kaitkan satu sama lain.
Saya gak pernah bilang salah atau benar, karena buat saya, saya gak pusingin hidup orang lain. Tapi karena kebetulan di dalam lingkup keluarga saya banyak yang kasusnya sama, issue ini nyentil saya banget.
Major issue disini adalah agama.
Sub-majornya yang pertama adalah perbedaan agama.
Saya pernah di posisi dimana saya punya hubungan sama orang yang beda agama dari saya.
Orang bilang kalau orang beda agama biasanya gak bertahan lama, atau kedepannya gak akan mulus/berakhir dengan baik, kalaupun ada, pasti rare case sekali dan bisa dihitung jari.
Terus orang bilang kalau beda agama urusnya sulit di Indonesia (ini bener).
Terus orang juga bilang kalau maksa nikah beda agama, nantinya bisa ribut gara-gara urusan agama itu.
Bla bla bla.
Kalau mau dikasih contoh bisa sampai besok gak habis saya tulis.
Kalau menurut saya, beda agama terus so what?
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah.
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah karena pengurusannya yang sulit dan dipersulit.
Agama bukan alasan buat dua orang batal menikah karena berpikir ke depannya bakal jadi problem dalam kehidupan mereka berdua.
Agama dijadiin issue buat gak jadi sama orang yang bener-bener kita sayang, itu masalah.
Saya gak bilang orang yang pindah agama demi pasangannya itu bukan orang yang benar, saya gak ada hak buat bilang seseorang itu benar atau tidak cuma karena dia pindah agama.
Saya percaya Tuhan itu satu.
Semua agama gak ada yang ajarin hal-hal buruk.
Kalau ada orang bilang agama A itu jelek atau agama B itu gak bener umatnya, buat saya orang itu gak ngerti bahwa itu dasarnya orang-orangnya saja yang jelek tabiatnya dan hidupnya gak bener tapi kebetulan orang yang dimaksud itu memeluk agama yang disangkut-sangkutkan.
Apa ada agama yang ajarin orang yang sudah menikah untuk bercerai dalam kondisi apapun?
Sejelek-jeleknya sebuah pernikahan, buat saya kalau sudah komitmen dari awal memilih pasangan itu sendiri tanpa ada paksaan dan sudah memutuskan buat menikah, tolong diingat lagi janji nikahnya seperti apa. Buat saya gak ada alasan cerai kecuali memang dipisahkan oleh maut.
Ada agama yang ajarin mencuri atau merampok?
Ada agama yang ajarin berdusta? Membunuh? Menyakiti orang lain?
Semua agama mengajarkan kasih.
Kasih sama Tuhannya, sama sesamanya, sama makhluk hidup lainnya, sama diri sendiri.
Terus balik lagi ke inti masalahnya, dimana agama jadi momok dalam soal pernikahan.
Kalau sudah sama agamanya, masalahnya ada lain lagi.
Sering ibadah bareng gak?
Suka berdoa bareng gak?
Terus kalau imannya gak kuat, nanti pernikahannya bisa hancur kalau ada cobaan berat yang menghadang.
Saya setuju kalau orang bilang sebuah pernikahan dasarnya/pusatnya/corenya itu Tuhan, karena menurut saya, dengan percaya sama Tuhan, orang punya rasa takut.
Takut bikin dosa, takut nyakitin orang lain, takut buat melakukan yang jahat atau negatif intinya kalau menurut saya sih.
Dan dengan semua rasa takut itu, otomatis seseorang jadi orang yg gak akan sia-siain pasangannya dalam cara apapun.
Tapi kalau orang bilang cuma karena gak pernah beribadah terus pernikahannya bisa goyah sih saya gak percaya dan gak akan pernah bisa terima pernyataan itu.
Kembali lagi bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, kalau ada orang yang memeluk agama apapun tapi tetap berbuat jahat sama orang, itu orangnya aja yang emang jahat, gak ada hubungan sama agamanya atau seberapa sering dia berdoa atau beribadah.
Manusia tidak ada yang sempurna dan manusia punya pilihan buat melakukan yang baik-baik atau yang jahat-jahat.
Saya cuma lihat masih banyak orang yang saya kenal atau lihat pakai mata kepala sendiri, rajin sih ibadahnya, cuma kehidupan sehari-hari sama orang lain gak mencerminkan ibadahnya.
Sekarang kalau ke tempat ibadah, di sana kita dengar pemimpin ibadahnya bicara mengenai hal-hal yang baik yang kita harusnya lakuin di dunia kan?
Kalau baru selesai ibadah, baru saja sampai di parkiran, terus ribut sama orang lain cuma gara-gara diserobot jalan keluarnya, apa itu sudah benar atau cukup ibadahnya?
Familiar sama hal-hal seperti itu?
Makanya saya gak pernah setuju orang mengukur iman orang lain (soal ukur-mengukur ini saja saya gak pernah setuju) cuma dari seberapa sering orang itu beribadah dan berdoa.
Tanpa tahu hidupnya sehari-hari orang tersebut seperti apa dan bagaimana.
Ada lagi kasus orang yang sepertinya (kelihatannya) sempurna; rajin beribadah, rajin nolongin orang lain, tapi di rumah atau di dalam lingkup keluarganya saja dia gamau turun tangan untuk bantu.
Kalau begitu apa dia orang benar? Cukup benar? Setengah benar?
Saya gak pernah mau pusingin hidup orang seperti apa, atau ibadahnya seperti apa, baik apa enggak orang itu sama keluarganya atau tetangganya, atau apapun soal agama orang lain.
Cukup dia sama Tuhannya saja yang tau, maka itu saya selalu ngerasa kadang orang terlalu "intim" mendadak kalau ngomongin soal agama, apalagi kalau tahu saya gak melakukan hal-hal pada umumnya yang seharusnya dilakukan oleh seorang Katolik. :p
Kembali ke kasus dimana rajin beribadah dan berdoa mendukung suksesnya sebuah pernikahan karena kalau ada benturan, doa akan menyelamatkan. Tuhan akan menyelamatkan.
Saya sudah pernah dengar banyak kasus kesaksian orang hampir bercerai, lantas karena berubah jadi rajin beribadah dan berdoa, serta rajin mendoakan istri/suaminya, tidak jadi bercerai. Atau suami/istrinya berubah jadi baik lagi. Ya semacam-macam begitu.
Sebuah hubungan (saya gausah jauh-jauh ngomongin pasangan suami istri), mau itu hubungan teman, pacaran, tetanggaan, apapun itu, selalu butuh dua orang untuk bisa jalan.
It takes two to tango. ALWAYS.
Itu yang saya yakinin.
Sebuah hubungan pasti ada ups and downs-nya, pasti ada cobaannya, mungkin hubungan pasangan itu lebih complex karena dua orang yang berkomitmen untuk menjalankan sebuah hubungan kan sifatnya intimate; ada sebuah janji, ada sebuah harapan sama mimpi. Jadi kalau ada masalah, biasanya lebih ruwet dan kalau berantem lebih heboh.
Tapi coba dipikir, namanya pasangan, kalau ada masalah, apa masalah itu timbul dari salah satu pihak saja?
Kembali lagi it takes two to tango.
Ada sebab ada akibat.
Dan setiap koin ada dua sisi.
Dan hal paling penting yang harus dijunjung tinggi dalam sebuah hubungan itu adalah komunikasi.
Mau berhubungan baik sama orang lain ya harus komunikasi yang baik.
Percuma punya rasa sayang kalau gak bisa berkomunikasi satu sama lain.
Suatu saat timbul masalah, apa rasa sayang saja cukup?
Kalau dua orang dalam satu hubungan sudah gak bisa komunikasi lagi, buat saya itu disaster.
Dengan komunikasi itu, nanti hal-hal baik pasti ikut muncul dengan sendirinya.
Faith.
Loyalty.
Honesty.
Trust.
Even love needs to be communicated, not only verbally but also with actions.
Saya gak perlu panjang-panjang jelasin kriteria cowok seperti apa yang saya mau, saya cukup bilang saya mau seseorang yang bisa saya ajak bicara dalam bentuk apapun dan nyambung sama saya. Itu sudah lebih dari cukup.
Dengan komunikasi yang baik, gak akan ada yang namanya misunderstanding.
Gak akan ada berantem berkepanjangan.
Dan yang saya maksud komunikasi disini bukan cuma ngomong ya, tapi juga dengerin. Give and take. Kalau cuma mau ngomong aja tanpa dengerin pasangan kita juga kan egois. Balik lagi setiap koin ada dua sisi.
Kalau ada misunderstanding ya dibicarakan.
Kalau ada sebuah issue, small or big, ya dibicarakan.
Terus apa hubungannya daritadi saya bicara tentang komunikasi sama inti masalahnya?
Simple-nya saya bisa bilang, Tuhan bantu kita kasih jalan kalau kita minta dalam doa, di waktu kita ngerasa buntu sama sebuah masalah. Tapi kalau kita nya juga gak usaha, apa semua bisa magically happens?
Saya percaya mukjijat dan berkat Tuhan, tapi saya gak percaya orang yang cuma diam saja gak mau melakukan apa-apa itu hidupnya lancar-lancar saja.
Berserah sama menyerah itu beda.
Yang satu itu tetap berusaha tapi menjalani apa adanya, yang satu lagi gak mau berusaha sama sekali.
Saya rasa Tuhan juga bisa lihat mana yang berserah mana yang menyerah.
Kalau ada orang yang menyerah, yang dikasih kemudahan dalam hidupnya sama Tuhannya, coba kenalan/kenalin sama saya.
Di balik orang ngomong "I give up" itu masih ada hope, ada pengharapan.
Kasarnya saya bilang, masih ngarep.
Tapi kalau ngarepnya mukjijat terjadi begitu aja kayak sulap terus semuanya tiba-tiba bim salabim baik-baik saja, sampai langit tukeran posisi sama air laut juga gak akan pernah dapet mukjijatnya.
Balik lagi ke cerita yang saya mau sharing.
Sorry kalau ada yang offended sama cerita saya, tapi saya gak ada maksud apa-apa cerita ini semua.
Papa saya lahir di keluarga yang Kristennya cukup kental, mama saya dari keluarga Katolik.
Waktu nikah, papa kayaknya pindah agama karena sekarang saya tahunya di KTP tulisannya ya Katolik dan juga terdaftar sebagai kepala keluarga yang sah di kartu keluarga paroki gereja dimana saya berdomisili (kalau di Katolik, kalau kepala keluarga (papa) bukan beragama Katolik, maka istrinya yang punya titel kepala keluarga di kartu keluarga tersebut, saya juga baru tahu soal ini).
Saya gak begitu tahu alasannya kenapa, tapi saya tahu, nenek dari papa saya selalu pesan begini: "Kalau seorang laki-laki benar-benar mencintai perempuannya, maka dia harus ikut agama pasangannya kalau ingin menikah."
Mungkin itu alasan kenapa papa saya pindah, atau mungkin plain love with my mom back then.
Who knows, and I don't bother to ask why, all I know I am loved by them and they are perfectly in good relationship until this very second.
Itu kan dari keluarga inti saya.
Kakak dari papa saya menikah dengan seorang muslim. Dan sekarang mereka berdua sudah resmi menjadi Bapak Haji dan Ibu Hajjah.
Dan sampai detik ini pernikahan mereka baik-baik saja, dan kita sekeluarga besar juga baik-baik saja.
Dan itu masih dalam lingkup keluarga saya juga.
Calon suami saya punya orang tua yang juga beda agama.
Dan mereka perfectly fine sampai detik ini juga.
Jadi, apa agama itu jadi masalah buat sebuah pernikahan?
Apa kalau beda agama itu jadi masalah?
Itu kan cuma paradigma orang dan society yang selalu memicingkan mata kalau ada dua pasang laki-laki dan perempuan dengan agama yang berbeda ingin menjalin hubungan.
Gausah jauh-jauh ngomongin pernikahan, pacaran aja belum tentu disetujuin.
Papa saya selalu bilang, cari orang yang benar.
Tapi sebelum cari orang benar itu, kamu harus jadi orang yang benar dulu.
Jadi kamu tahu mana yang benar mana yang salah.
Dan itu yang saya pegang sampai detik ini.
Saya gak pernah ada maksud bilang orang gausah beribadah lagi, gausah berdoa lagi, atau gapapa kalau cari pasangan yang gak ngelakuin itu semua. Enggak.
Setiap orang punya prinsip sendiri-sendiri.
Prinsip saya ya seperti yang papa saya pesankan, cari orang yang benar.
Karena buat saya lebih baik saya sama orang yang tahu bagaimana harus menjalani hidup, daripada orang yang fanatik sama agamanya tapi gatau bagaimana menghargai orang lain dan makhluk hidup lainnya.
Kalau bisa dapat yang ibadahnya kuat PLUS orang benar, itu kan kayak dapat harta karun, dan kalau ada yang dapat itu, bersyukurlah, karena Tuhan itu baik sekali.
Lakukan yang menurut kamu benar, selama itu gak menyakiti orang lain dalam bentuk apapun. (:
Dan sebelum kamu judge kehidupan orang lain, coba diinget dulu seberapa sempurna hidup kamu?
mel
Friday, December 23, 2011
marry you.
Sekilas kalau mikirin soal pernikahan itu sepertinya gampang ya?
Dua orang saling mencintai, berjanji, berkomitmen untuk bersama-sama sampai maut memisahkan.
Ke KUA, catatan sipil, pemberkatan, resepsi........honey moon = HAPPILY EVER AFTER
really?
NGAREP
Nyatanya banyak kasus nyata kalau nikah itu sulit!
Gausah jauh-jauh contohnya, saya ngacung deh buat soal yang satu ini.
Kemarin ini sempat membicarakan cerita masa depan berdua.
Dari soal mau beli rumah aja sudah ribut.
Berlanjut ke masalah resepsi pernikahan, pemberkatan pernikahan (secara agama kita berbeda).
Terus belum cukup semua keribetan itu, ditambah lagi sebuah kenyataan besar: saya SUKA anjing, dia GASUKA anjing.
Bukan tidak suka yang gimana-gimana banget, cuma beberapa "ritual" khas di rumah sekarang adalah:
1. setiap malam anjing selalu masuk kamar dan kadang bobok bareng satu ranjang
2. setiap saat hobi cium-cium anjing kesayangan dan elus-elus gak pake cuci tangan (kecuali mau makan)
3. si doggy bebas naik turun sofa dan nonton tv kapanpun dia mau (hahaha lebay juga bagian nonton tv)
Dan hal-hal disebutkan di atas bisa jadi sebuah hal super penting yang beberapa orang tidak sukai.
Belum cukup mencoba adaptasi dan mengerti keanehan-keanehan di awal, harus juga berusaha mengakrabkan diri dengan keluarga besar kedua belah pihak (ya iyalah emang nikah cuma antara suami sama istri doang?)
Nah, terbayang belum ribetnya?
Saya sih sudah.
Belum lagi masalah materi.
Nikah buat saya bukan cuma sebuah kecukupan mental, jiwa, raga, atau sekedar SIAP.
Tapi materi juga harus siap.
Mau makan apa kalau kerja aja masih serabutan atau gaji selalu habis tiap awal bulan?
Mau beli bahan makanan pakai apa kalau pengeluaran masih lebih besar ketimbang pemasukan?
Mau bayar rumah sakit bagaimana kalau istri melahirkan, kalau setiap bulan masih bergantung limit kartu kredit?
Wah, jujur saya ngeri bayanginnya.
Bagaimana saya memenuhi kebutuhan saya selama ini yang 50% masih disupport orang tua?
Apakah nanti suami saya sanggup memenuhi kebutuhan saya?
Despite all the arguments and quarrels I mentioned above, lucky me I have a super understanding man for this needs issue.
Mungkin banyak pasangan yang melakukan hal yang saya lakukan bersama si pacar.
Mungkin sistemnya lain, tapi intinya, kita berusaha, dia berusaha untuk belajar memenuhi kebutuhan saya setiap bulan.
Kebutuhan terbesar saya sebenarnya bukan baju, bukan perhiasan, bukan barang-barang.
Kebutuhan terbesar, pengeluaran terbesar lebih tepatnya, adalah MAKAN.
Iya, makanan adalah pengeluaran terbesar saya setiap bulannya.
Saya suka makan, hobi makan, pemburu makanan, dan sangat cinta makanan enak.
Intinya saya 70% menghabiskan saat-saat makan saya di luar.
Atau saya sering berkunjung ke restoran atau tempat favorit saya.
Jadi setiap bulan, si pacar memberikan alokasi dana dengan jumlah yang sama, untuk pengeluaran makan (baca: have fun).
Kalau sampai melebihi budget yang ada, bulan depan akan dipotong sesuai dengan kekurangan bulan sebelumnya. Kalau lebih akan dimasukkan tabungan bersama milik kami berdua.
Kesannya seru ya?
Seru kalau bisa mengerem hobi makan saya.
Sayangnya kadang kalau pas sedang ngidam ini itu, susah banget untuk stop diri untuk tidak makan ini atau itu.
Alhasil kadang setiap bulan pas habis atau dengan terpaksa menunda keinginan untuk makan ini itu.
Tapi kalau sekarang mengecek saldo tabungan, rasanya senang banget.
Karena tabungan itu rencananya akan digunakan untuk membeli barang-barang untuk mengisi rumah kita kelak di masa depan (aduh berasa lama ya).
I appreciate his willingness to understand and try to fulfill my personal needs. It also helps myself to adjust my needs --to spend only with what I've got.
Eitherway it's a good exercise for our future life as family. Early learning/education is always a good start to step into a bigger world, right? ( :
Anyway, seiring berjalannya waktu (awalnya susah banget untuk ngerem keinginan saya untuk makan ini itu di saat yang berdekatan), saya belajar untuk menghargai yang saya punya dan sebisa mungkin lebih banyak menabung ketimbang membuang uang untuk makan makanan mahal yang kadang belum tentu enak ( :
Tapi itu tidak menghentikan hobi saya sebagai food hunter. Hanya saja sekarang lebih pintar memilah ( ;
Lagipula, sekarang kita berdua sama-sama sibuk, jadinya jarang ada waktu untuk keluar makan yang terlalu jauh, karena biasanya kerjaan kita berdua baru selesai di sore menjelang malam, sama-sama terlalu capek untuk keluar ke area Jakarta.
In conclusion, I guess I am not ready to get married, just yet.
Let's do things we can do while we are still young (and not married)!
cheers,
meL
Dua orang saling mencintai, berjanji, berkomitmen untuk bersama-sama sampai maut memisahkan.
Ke KUA, catatan sipil, pemberkatan, resepsi........honey moon = HAPPILY EVER AFTER
really?
NGAREP
Nyatanya banyak kasus nyata kalau nikah itu sulit!
Gausah jauh-jauh contohnya, saya ngacung deh buat soal yang satu ini.
Kemarin ini sempat membicarakan cerita masa depan berdua.
Dari soal mau beli rumah aja sudah ribut.
Berlanjut ke masalah resepsi pernikahan, pemberkatan pernikahan (secara agama kita berbeda).
Terus belum cukup semua keribetan itu, ditambah lagi sebuah kenyataan besar: saya SUKA anjing, dia GASUKA anjing.
Bukan tidak suka yang gimana-gimana banget, cuma beberapa "ritual" khas di rumah sekarang adalah:
1. setiap malam anjing selalu masuk kamar dan kadang bobok bareng satu ranjang
2. setiap saat hobi cium-cium anjing kesayangan dan elus-elus gak pake cuci tangan (kecuali mau makan)
3. si doggy bebas naik turun sofa dan nonton tv kapanpun dia mau (hahaha lebay juga bagian nonton tv)
Dan hal-hal disebutkan di atas bisa jadi sebuah hal super penting yang beberapa orang tidak sukai.
Belum cukup mencoba adaptasi dan mengerti keanehan-keanehan di awal, harus juga berusaha mengakrabkan diri dengan keluarga besar kedua belah pihak (ya iyalah emang nikah cuma antara suami sama istri doang?)
Nah, terbayang belum ribetnya?
Saya sih sudah.
Belum lagi masalah materi.
Nikah buat saya bukan cuma sebuah kecukupan mental, jiwa, raga, atau sekedar SIAP.
Tapi materi juga harus siap.
Mau makan apa kalau kerja aja masih serabutan atau gaji selalu habis tiap awal bulan?
Mau beli bahan makanan pakai apa kalau pengeluaran masih lebih besar ketimbang pemasukan?
Mau bayar rumah sakit bagaimana kalau istri melahirkan, kalau setiap bulan masih bergantung limit kartu kredit?
Wah, jujur saya ngeri bayanginnya.
Bagaimana saya memenuhi kebutuhan saya selama ini yang 50% masih disupport orang tua?
Apakah nanti suami saya sanggup memenuhi kebutuhan saya?
Despite all the arguments and quarrels I mentioned above, lucky me I have a super understanding man for this needs issue.
Mungkin banyak pasangan yang melakukan hal yang saya lakukan bersama si pacar.
Mungkin sistemnya lain, tapi intinya, kita berusaha, dia berusaha untuk belajar memenuhi kebutuhan saya setiap bulan.
Kebutuhan terbesar saya sebenarnya bukan baju, bukan perhiasan, bukan barang-barang.
Kebutuhan terbesar, pengeluaran terbesar lebih tepatnya, adalah MAKAN.
Iya, makanan adalah pengeluaran terbesar saya setiap bulannya.
Saya suka makan, hobi makan, pemburu makanan, dan sangat cinta makanan enak.
Intinya saya 70% menghabiskan saat-saat makan saya di luar.
Atau saya sering berkunjung ke restoran atau tempat favorit saya.
Jadi setiap bulan, si pacar memberikan alokasi dana dengan jumlah yang sama, untuk pengeluaran makan (baca: have fun).
Kalau sampai melebihi budget yang ada, bulan depan akan dipotong sesuai dengan kekurangan bulan sebelumnya. Kalau lebih akan dimasukkan tabungan bersama milik kami berdua.
Kesannya seru ya?
Seru kalau bisa mengerem hobi makan saya.
Sayangnya kadang kalau pas sedang ngidam ini itu, susah banget untuk stop diri untuk tidak makan ini atau itu.
Alhasil kadang setiap bulan pas habis atau dengan terpaksa menunda keinginan untuk makan ini itu.
Tapi kalau sekarang mengecek saldo tabungan, rasanya senang banget.
Karena tabungan itu rencananya akan digunakan untuk membeli barang-barang untuk mengisi rumah kita kelak di masa depan (aduh berasa lama ya).
I appreciate his willingness to understand and try to fulfill my personal needs. It also helps myself to adjust my needs --to spend only with what I've got.
Eitherway it's a good exercise for our future life as family. Early learning/education is always a good start to step into a bigger world, right? ( :
Anyway, seiring berjalannya waktu (awalnya susah banget untuk ngerem keinginan saya untuk makan ini itu di saat yang berdekatan), saya belajar untuk menghargai yang saya punya dan sebisa mungkin lebih banyak menabung ketimbang membuang uang untuk makan makanan mahal yang kadang belum tentu enak ( :
Tapi itu tidak menghentikan hobi saya sebagai food hunter. Hanya saja sekarang lebih pintar memilah ( ;
Lagipula, sekarang kita berdua sama-sama sibuk, jadinya jarang ada waktu untuk keluar makan yang terlalu jauh, karena biasanya kerjaan kita berdua baru selesai di sore menjelang malam, sama-sama terlalu capek untuk keluar ke area Jakarta.
In conclusion, I guess I am not ready to get married, just yet.
Let's do things we can do while we are still young (and not married)!
cheers,
meL
Subscribe to:
Posts (Atom)